Rabu, 12 September 2012

IMAN DAN TAQWA DALAM PERSPEKTIF ISLAM


IMAN DAN TAQWA
DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT

Oleh: Prof. DR. K. H. Achmad Mudlor, SH.





1.       Pengantar
Karangan ilmiah ini berjudul “Iman Dan Taqwa Dalam Perspektif Filsafat”. Untuk menganalisis judul ini perlu dijelaskan terlebih dahulu bahwa Iman danTaqwa adalah dua unsur agamis yang esensiil dari suatu agama dan tidak mungkin terlepas dari pembahasan filsafat, khususnya filsafat agama yaitu membahas masalah agama dari segi filsafat.
Filsafat agama dalam pandangan berbagai filosof bukanlah pembahasan filsafat secara bebas, tetapi ia membahas agama dari segi aspek filsafat dengan titik tolak yang tertentu. Karena agama itu bermacam-macam pedoman dan landasannya, maka sudah barang tentu landasan yang dipergunakan sebagai titik tolak pembahasan tulisan ini adalah ajaran Islam.
Landasan berfilsafat adalah akal bukan wahyu, oleh karena itu dalam sejarah filsafat terdapat filosof yang beriman dan ada pula filosof yang kufur yang hanya percaya pada pengetahuan indra yang didukung oelh akal, terutama folisof yang beraliran meterialistisme.
Sebenarnya antara berfikir filosofis dan berfikir religius mempunyai titik mulai yang sama, keduanya mulai dengan percaya. Dalam filsafat dimulai dengan percaya pada kemampuan akal, sedangkan dalam agama dimulai dengan percaya pada ketetapan wahyu. Menurut agama Islam, Iman diartikan secara sederhana adalah kepercayaan, sedangkan dalam filsafat agama Iman tersebut dipahami secara radikal.
Dalam menghadapi kepercayaan kepada kebaradaan Tuhan, setiap manusia atau setiap agama mempunyai konsep yang berlain-lainan tentang apa yang dinamakan Tuhan. Misalnya Plato sering menyebut Tuhan dengan kata (The Good), yaitu Tuhan yangb baik, tetapi dia tidak pernah menyebut Tuhan yang hidup (Yhe Live). Bagi Aristoteles, bahwa kepercayaan terhadap adanya Tuhan adalah kepecayaan kepada adanya zat yang memberi arti kepada alam, tetapi Tuhan yang tidak dapat kita hubungi, artinya bukan Tuhan yang dapat kita sembah dan kita mintai. Tuhan menurut Aristoteles merupakan it bukan he. Tuhan menurut kepercayaan agama greek adalah Tuhan yan dianggab mempunyai hubungan dengan masalah kerohanian atau suatu kekuatan dalam dunia spiritual. Kita sedikit agak setuju Tuhan seperti yang dikemukakan Pascal, yaitu Tuhannya Nabi Ibrahim, Nabi Ishak, Nabi Ya`qub, sebab Tuhan ditambah predikat Nabi-Nabi yang diakui oleh agama Islam, sekalipun sifat-sifat Tuhan tidak disebutkan. Tuhan yang dibahas dalam tulisan ini adalah Tuhan yang diberi predikat 99 asmaa`ul chusna.
Iman dan taqwa dalam judul diatas bukan merupakan kesatuan yang utuh, akan tetapi antara keduanya merupakan dua pengetahuan yang mempunyai hubungan yang erat sekali. Tinggi rendahnya nilai keimanan berpengaruh besar terhadap tinggi rendahnya nilai ketaqwaan. Sedangkan tinggi rendahnya nilai ketaqwaan sebagai bukti nilai kebenaran nilai Iman yang dimiliki. Oleh karena itu makalah ini perlu sekali terlebih dahulu memnbahas pengertian iman dan taqwa serta hubungan antara keduanya.
Setiap lubuk hati manusia tidak boleh kosong dari potensi kepercayaan. Dalam filsafat ilmu ini ia sebagai alat tahu. Tidak percaya terhadap adanya sesuatu berarti percaya bahwa sesuatu itu tidak ada. Usaha filosof untuk menjelaskan seluruh kenyataan secara tuntas ternyata masih ada sesuatu sisa yang tidak dapat dijelaskan yang berperan besar terhadap kehidupan manusia. Sisa ini oleh Herbert Spencer diberi istilah The great of imknowable yang harus diterima dengan sikap percaya atau tidak percaya. Bahkan dalam kehidupan manusia sering dihadapkan dengan sesuatu misteri yang tersembunyi dibalik gejala-gejala, bahwa dibalik segala sesuatu yang terpaksa harus dipercaya. Hal ini mendorong untuk dibahas secara radikal oleh berbagai filosof yang tekun dengan filsafatnya. Oleh karena itu dari sisi ini perlu dibahas tentang peran iman dalam meningkatkan amal ketaqwaan.
Dalam agama Islam iman mempunyai peran dan pengaruh yang besar terhadap penghidupan manusia dialam semesta ini, baik dalam segi hubungannya dengan  Tuhan dan dan sesama manusia maupun hubungannay dengan alam fisika dan metafisika. Wilian James seorang filosof kelahiran New York dengan teori dogmatisnya telah membahas masalah-masalah agama, khususnya tentang iman kepada Allah. James tidak mempersoalkan tentang kebenaran kepercayaan-kepercayaan dalam agama, tetapi yang dipersoalkan adalah hasil menjadikan agama sebagai pedoman hidup. Baginya kalau kepercayaan atau ide-ide agama itu memperkaya hidup maka itu adalah benar. Kalau ada anggapan yang dapat menjadi dasar suatu hidup yang baik, maka sebaiknya percaya terhadap  anggapan itu. Kalau harus memilih antara anggapan yang berbeda maka harus berfikir dari titik akhir. Perspektif tentang manusia dan dunia dengan Allah menggambarakan masa depan yang lebih baik dan sesuai dengan keinginan kita dari pada perspektif tanpa Allah. Perspektif pertama lebih berguna, maka lebih benar. Dari sisi ini maka perlu dibahas pengaruh iman terhadap kahidupan manusia.
Jadi makalah yang berjudul “Iman dan Taqwa dalam Perspektif Filsafat” dibatasi pembahasan sebagai berikut.
·         Iman dan taqwa serta hubungan anatara keduanya
·         Peranan iman dalam membentuk ketaqwaan
·         Pengaruh kekuaatan iman terhadap kehidupan individu dan masyarakat.

Tiga rumusan tersebut akan dibahas dalam tulisan yang singkat dan kesempatan yang terabatas. Namun semoga memenuhi hajat bagi para pembaca dan dapat dijadikan pandangan untuk membahas yang lebih luas.


2.       Iman dan taqwa serta hubungan antara keduanya
Iman dan taqwa adalah dua unsur pokok bagi pemeluk agama. Keduanya merupakan elemen yang penting dalam kehidupan makhluq manusia dan sangat erat hubungannya dalam menentukan nasib hidupnya serta memiliki fungsi yang urgen.
Menurut ahli hukum, iman itu hanya sekedar pengakuan suatu makna yang terkandung dalam lubuk hati, menurut para teolog, iman itu adalah kepercayaan yang tertanam dalam lubuk hati dengan keyakinan yang kuat tanpa tercampuri oleh keraguan dan berperan terhadap pendangan hidup atau amal perbuatan sehari-hari. Sedangkan menurut berbagai filosof, iman diartikan lebih jauh dari lafidz dan makna serta tidak terikat dengan dalil-dalil apologis. Misalnya Karl Teodor Yoeper seorang filosof Jerman mengetengahkan istilah iman falsafi yang universil yang berlaku untuk semua zaman dan kebudayaan. Isi iman falsafi baginya, bahwa Allah itu ada, manusia harus mampu memilih memilih yang baik secara tak bersarat, dunia tidak merupakan kenyataan terakhir dan bahwa cinta kasih manusia merupakan suatu bukti adanya Allah. Semua pengertian-pengertian yang dikemukakan diatas pada dasarnya menunjukkan, bahwa iman itu berperanan dan berpengaruh terhadap tindak laku manusia dalam segala aspek kahidupan manusia.
Menurut filosof islam Imam Ghozali bahwa iman itu berkaitan dengan  hal-hal yang bersifat spiritual atau batin, dimana hati dapat menangkap iman dalam pengertian hakiki melalui kasyaf yang diperoleh berkat pancaran sinar Ilahi padanya. Dalam kesempatan lain beliau menegaskan, bahwa arti iman adalah pengakuan yang kuat tidak ada pembuat (faa`il) selain Allah. Makna iman yang dikemukakan ini menimbulkan problema metafisis, diantaranya membatasi sebab pembuat (illah faa`iliyah) hanya kepada Allah, manafikan kebebasan berikhtiar dari manusia serta penyerahan diri (tawakkal) kepada-Nya. Pemikiran Imam Ghozali ini disebut dengan istilah tauhid, sebab artinya keimanan itu tidak boleh menghubungkan sebab tersebut kepada selai Allah. Dialah pembuat satu-satunya dan selain-Nya hanya sekedar washilah (perantara). Hukumnya perantara itu dalam tinjauan filsafat juga sebab, namun sebab pokok.
Bagi Imam Ghozali iman itu bukan lawan dari syirik, tetapi peng-Esaan kepada Kholiq (Pencipta). Oleh karena itu bagi orang yang meng-Esakan Allah harus bersikap tawakkal. Tawakkal bukan berarti maniadakan ikhtiar, tetapi maniadakan kebebasan berikhtiar, karena dalam tawakkal manusia berkesempatan untuk kasab (berusaha). Bahkan dengan tawakkal itu dapat mengenal hakekat ikhtiar dan sekaligus dapat mengetahui nilai dan kualitas iman. Iman yang sebenarnya harus membuahkan tawakkal, sehingga dapat memperoleh ridho Allah. Dalam kitab suci dikemukakan, bahwa Nabi Hud, Nabi Musa dan tang lainya telah menjadikan tawakkal sebagai benteng kekuatan bertaqwa dalam menghadapi kaumnya. Ini semua menunjukkan, bahwa antara iman dan taqwa saling berpengaruh dalam membentuk membentuk manusia berkepribadian luhur.
Iman menurut pemikiran Imam Ghozali diatas mengandung implikasi yang sangat luas. Diantaranya sekaligus sebagai garis pemisah terhadap pandangan orang yang mengingkari wujud dibalik materi, menolak dengan tegas faham polotisme, atheisme, animisme, dan lainnya. Penafsiran sebab tauhid sebagaimana yang telah diterangkan oleh Imam Ghozali tidak dapat disamakan dengan penafsiran sebab yang dengan dikemukakan oleh Aristoteles, sebab Aristoteles tidak bermaksud dengan konsepnya itu menafikan sebab material. Gerak alam ini dipandang olehnya sebagai gerak tujuan (illah ghoyah) yaitu Tuhan adalah tujuan yang menjadi arah gerak alam, sedangkan Imam Ghozali menafsirkan Allah penggerak satu-satunya. Dialah pencipta segala sesuatu, pencipta absolut sebagaimana ditegaskan  oleh wahyu-Nya.
Pada umumnya pada filosof yang tidak mengenal ide-ide agama, maka dalam filsafat ketuhanan perlu berpendirian, bahwa permulaan alam hanya sebagai pengatur dan penyusun materia in prima (materi pertama) sebagai Tuhan sendiri. Pengertian pengatur dan penyusun lebih menunjukkan keterampilan daripada pencipta. Pendirian mereka menjadikan wujud keseluruhannya tersusun dari sebab akibat. Tuhan dan materi tunduk di bawah hukum kemestian (nesessity).
Jadi kenyataan isi dari iman antara filosof murni dengan filosof yang mengakui ide-ide agama, khususnya Islam jauh berbeda, sehingga konsekuensinya dalam pembentukan kepribadian luhur dan pola pikir dalam mengarungi kehidupan ditengah-tengah masyarakat akan terjadi perbedaan juga. Disini tampak dengan jelas, bahwa sila pertama dari Pancasila sebagai asas tunggal bermasyarakat dan bernegara tidak sama dengan kepercayaan para filosof yang tidak mengenal agama dalam mempercayai keberadaan Tuhan. Tuhan dalam Pancasila adalah Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta alam semesta, Penagsih, Penyayang, dan sebagainya seperti dijelaskan oleh ajaran agama khususnya ajaran Islam. Pemikiran ketuhanan yang terkandung dalam Pancasila ternyata berpengaruh besar dalam merumuskan Tujuan Pendidikan Nasional, Pedoman Pengahayatan dan Pengamalan Pancasila dan aturan-aturan yang lain di Negara kita yang hampir kesemuanya mengandung norma-norma luhur.
Filosof-filosof Islam, baik Mu`tazilah maupun Ahli Sunnah berpendapat bahwa hukum beriman kepada Allah adalah wajib karena iman itu dapat diharapkan terbentuk masyarakat yang bertaqwa. Mereka berselisih tentang dasar terjadinya kewajiban itu dari agama, sebab akal tidak mengenal hukum wajib. Akal hanya mengenal tepat dan tidak tepat, sesuai dan tidak sesuai, benar dan salah. Abu Mansur Maturidi dan pemikir Ahli Sunnah memberikan penyelesaian kontradiksi tersebut dengan penegasannya bahwa dasar kewajiban beriman itu dari agama dan dapat difahami kebenarannya oleh akal.
Taqwa itu pada prinsipnya adalah amal batin atau lahir, baik yang bersifat mengikuti perintah Tuhan maupun amal yang berbentuk menjauhi larangan Tuhan. Yang menjadi problema apakah unsur amal itu menjadi syarat iman, dengan pengertian, bahwa apakah tanpa amal seseoran tidak dianggap beriman.
Mayoritas ahli pikir Mu`tazilah dan Khowarij berpendirian, bahwa amal adalah rukun iman. Iman seseorang tidak dapat diterima tanpa amal dengan argumentasi, bahwa kalimat “Innal ladzina Amanuu” dalam firman Allah selalu diiringi kalimat “wa Amilush sholihahat” atau kalimat lain yang maksudnya sama. Tetapi menurut ahli pikir Ahli Sunnah, bahwa amal bukan sebagian rukun iman dengan alasan, bahwa apabila amal termasuk rukun iman berarti Iman dan Islam merupakan satu kesatuan yang tidak terpisah, sedangkan berdasar penjelasan Hadist antara keduanya berlainan, dimana Jibril bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang apa rukun Iman dan rukun Islam. Masing-masing dijawab dengan jawaban yang berbeda. Bagi ahli pikir Ahli Sunnah kalimat “Alladzina Amanu” memang selalu diikuti kalimat “wa amilush sholihat” ini menurut analisa bahasa bahkan menunjukkna perbedaan, sebab Wau Athaf disitu menunjukkan perbedaan (Taqtadli Mughoyarah). Artinya iman itu bukan amal dan amal itu bukan iman. Hal ini sama dengan kalau orang yang makan telah pergi. Ini menunjukkan, bahwa berkata itu bukan makan dan makan itu bukan berkata. Tetapi ahli pikir Ahli Sunnah mengakui bahwa antara keduanya mempunyai pengaruh yang erat sekali. Apabila antara dua pendapat tersebut diatas dikomparasikan maka pendapat ahli pikir Ahli Sunnah lebih kuat argumentasinya. Sebab manakala amal itu termasuk rukun  iman dan iman tidak diterima tanpa amal sholeh, maka alangkah sedikitnya orang-orang yang masuk surga. Dalam pada itu dikemukakan oleh suatu hadits, bahwa “akan keluar dari neraka siapa saja yang didalam lubuk hatinya teradapat sedikit dari iman”. Hadits ini menunjukkan orang yang beriman tanpa amal bagaimanapun akan masuk surga sekalipun sangat lama sekali merasakan neraka.

3.       Peranan Iman dalam membentuk amal ketaqwaan
Peranan iman tidak dapat terhitung jumlahnya. Yang tidak diketahui lebih banyak dari pada yang diketahui. Bahkan peranannya dalam dunia metafisika sedikit sekali yang dapat dijelasakan.
Iman adalah sesuatu yang tersembunyi dalam jiwa (Ma waqaro fil qalbi). Berdasarkan eksperimen sebagian besar ahli jiwa berkesimpulan, bahwa iman kepada Allah termasuk obat yang manjur untuk menyembuhkan penyakit jiwa atau menghilangkan gangguan jiwa. Kesimpulan inin diperkuat oleh filosof-silosof besar diantaranya Francis Bacon, William James, Kierkegoor dan lain-lain.
Menurut filosof Islam Jamaluddin Alafghoni, bahwa iman kepada Allah menumbuhkan keteguahan pendirian dalam menghadapi kesulitan dan bahaya, bahkan mampu untuk membentuk kerelaan dan meninggalkan kemewahan hidup, manakala ada seruan untuk bejuang dijalan Allah. Keteguhan pendirian tersebut menjadikan kekuatan yang sangat teguh walaupun bahtera kehidupannya terombang ambing oleh ombak dari segala penjuru. Kekuatan tersebut sekalipun merupakan pendirian setiap individu, namun menjadi kekuatan masyarakat dan bangsa. Pemikiran Jamaluddin ini sejalan dengan kepercayaan filosof Plato, bahwa suatu bangsa tidak dapat menjadi kuat, kecuali bila ia percaya kepada Tuhan, sekedar kekuatan alam atau sebab pertama atau elan vital, yang tidak berupa person, jarang sekali dapat berhasil mengilhamkan harapan, pengabdian atau pengorabanan. Akan tetapi Tuhan yang hidup dapat berbuat semua ini. Kedua pemikiran tersebut menunjukkan, bahwa peranan iman adalah menumbuhkan kekuatan pendirian.
Telah disepakati oleh semua ilmuan, bahwa manusia adalah makhluk sosial tidak mungkin terlaksana tanpa dukungan kerjasama anggota masyarkat. Kerjasama tidak akan langgeng tanpa adanya aturan atau hukum atau undang-undang yang mengatur hubungan untuk mematuhi hak dan kewajiban masing-masing anggota masyarakat. Untuk merealisasinya sangat membutuhkan pendukung atau kekuatan. Kekuatan pemerintah hanya dapat mencegah pelanggaran yang nyata dan dapat dibuktikan. Sedangkan para hakim yang berstatus penegak hukum sering dikuasai oleh hawa nafsunya. Maka untuk menghadapi kejahatan atau kekejaman yang terselubung membutuhkan kekuatan yang mampu mengendalikan nilai hukum dan norma-norma luhur. Hampir semua ahli-ahli agama mengakui, bahwa iman dan taqwa berperan sebagaikekuatan pengeandali hawa nafsu untuk menegakkan  norma dan nilai tersebut.
Orang yang beriman kepada Allah mempunyai rasa atau kesadaran tentang kelamahan dan kekurangannya. Kelamahan dan kekurangnnya ini dapat menimbulkan sifat menyerah kepada Allah yang diimani. Hal ini Islam mengakui berdasarkan wahyunya, menurut Th. Steinbuchel, bahwa dalam kepercayaan kepada Tuhan, manusia mempunyai rasa enfurcht und mertven (rasa hormat dan menyerah dengan percaya). Dalam Islam pengaruh iman diantaranya rasa tawakkal (Ali Imron: 160). Tawakkal dalam tinjauan tasawuf ini harus seiring dengan kesabaran. Keberhasilan manusia tidak mungkin sepenuhnya dari usaha sendiri. Sedangkan kecil dan tidaknya ditentukan oleh berbagai faktor diluar kemampuannya. Faktor-faktor itu adalah sebab keberhasilan. Banyak akibat yang sebabnya bermacam-macam dan sebaliknya, banyak sebab yang akibatnya bermacam-macam. Banyak akibat yang sulit diketahui sebabnya dan banyak sebab yang sulit diketahui akibatnya. Dalam situasi diatas sikap tawakkal sangat diperlukan. Iman yang kuat mempunyai peran untuk menimbulkan tawakkal. Dari sini manusia akan mengetahui hakekat usahanya.
Orang beriman mempunyai tekat untuk berbuat baik. Kalau kita pinjam istilah filosof dari Max Scheler ialah Wollen de Tuns (Niat untuk berbuat). Kalau kita menukil istilah wahyu adalah `azam atau iradatun jaazimatun (kehendak yang sudah pasti). Oleh Max Scheler dinyatakan, bahwa kesiapan yang fundamental ini disebut tekad, sebab didalamnya terdapat keberanian dan tanggung jawab. Memang menegakkan norma yang luhur itu membutuhkan keberanian. Menurut ajaran wahyu disebut tekat menegakkan yang haq itu bukan didorong oleh hawa nafsu, kepentingan pribadi dan golongan, akan tetapi didorong oleh pikiran yang suci yang tumbuh berkat kekuatan iman. Karena itu mereka tidak takut menghadapi penegak-penegak kebathilan, karena yakin, bahwa pelindungnya adalah Allah.
Manusia menurut mandangan Max Scheler memiliki tiga suasana (sphare), yaitu suasana keindraan, suasana vital dan suasana rohani. Dengan tiga suasana ini maka dapat dibedakan tiga macam peranan (gepuhle). Perasaan keindraan adalah rasa seperti enak, pahit dan semacamnya. Rasa vital ada dua cabang yaitu, rasa kehidupan jasmani (lebengepuhle) seperti lelah dan segar bugar, dan rasa kejiwaan (seeliche-gepuhle) seperti apabila orang yang berkata bingung, aku sedih dan aku susah. Kemudian yang ketiga adalah rasa rohani, misalnya bahagia dan damai. Disini badan tidak tersangkut. Orang yang sedang sedang menderita tubuhnya bisa juga merasa bahagia. Diantara tiga nilai diatas nilai rohani lebih atas. Sedangkan Allah menurut Scheler sebagai Maha Nilai. Baginya menyerah kepada Allah tidak kehilangan nilai, melainkan bertambahnya nilainya.
Menurut ajaran wahyu orang mu`min yang sebenaranya ialah orang cinta tertingginya diarahkan kepada Allah (Asyaddu Cubban Lillah). Bahkan menurut wahyu manusia diancam oleh Allah manakala cintanya kepada Allah tidak diatas segala macam cinta. Cinta yang tinggi ini menjadi dasar semua cinta kita. Manakala manusia beriman salah satu jenis kecintaannya gagal arau tidak terpenuhi, maka tidak akan merusak kebahagiaan hidup asal cinta tertingginya tetap bercokol. Uraian diatas dapat dirumuskan, bahwa iman yang kokoh berperan menumbuhkan rasa cinta kepada Allah dan sekaligus berperan menumbuhkan kebahagiaan hidup.
Uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa peran iman, diantaranya menghilangkan  gangguan jiwa, menumbuhkan keteguahan pendirian, menumbuhkan kekuatan pengendali hawa nafsu, menumbuhkan tawakkal, menciptakan tekat berbuat baik dan berperan menciptakan rasa cinta dan bahagia.
Enam macam peranan tersebut hanya merupakan peranan yang asasi secara minim akan tumbuh pada orang-orang yang benar-benar beriman. Totalitas peranan tersebut secara integral dapat menumbuhkan  ketaqwaan dalam hkehidupan manusia, baik sebagai makhluk individual maupun koletif. Sedangkan gambaran rinci tentang proses peranan iman yang menumbuhkan ketaqwaan sebagai berikut, yaitu gambaran singkat sebagai perspektif filsafat agama terhadap iman dan taqwa.
Manusia adalah makhluk yang membutuhkan keselamatan, bukan untuk sekedar beberapa tahun, namun untuk selama-lamanya. Bukan keselamatan fisik berupa kesehatan saja, namun juga keselamatan rohani berupa ketenangan jiwa. Disini iman berperan untuk melenyapkan semua gangguan jiwa. Lebih dari pada itu ia juga membutuhkan keselamatan dalam arti yang tinggi. Keselamatan dalam artian ini menurut wahyu adalah kebahagiaan didunia dan di alam baka.dalam hal ini dibutuhkan peranan iman berupa menciptakan tekat berbuat baik bersama-sama peranan iman yang lain yang berfungsi secara integral. Keberhasilan keselamatan manusia tidak berkat usaha sendiri, namun masih tergantung dengan lainnya, karena realitasnya dia sebagai suatu titik yang kecil terletak dalam suatu kosmos yang maha besar dan tidak terhingga. Bahkan dalam kemerdekaannya dia masih terikat. Oleh karena itu dia membutuhkan dukungan sesamanya dan dukungan lingkungan. Tetapi ternyatab tidak semuanya mendukung, bahkan menjadi penghambat dan perintang, karena masing-masing mempunyai keinginan dan kemampuan yang berbeda. Peranan iman berupa tumbuhnya keteguhan pendirian dan kekuatan pengendalian hawa nafsu mutlak dibutuhkan. Sudah barang tentu tidak semua keselamatan berhasil dengan memuaskan bahka sering terjadi kegagalan. Dalam situasi ini tidak akan terjadi keputusasaan sebab sifat iman yang sebenarnya berperan menumbuhkan sifat tawakkal. Baik berhasil maupun gagal tetap bersyukur sebab iman yang sesungguhnya menumbuhkan rasa cinta dan bahagia dalam situasi apapun. Demikian gambaran proses integral peranan-peranan iman yang mampu menumbuhkan ketaqwaan yang didambakan oleh kejayaan bangasa dan negara.

4.       Pengaruh kekuatan iman terhadap kehidupan individu dan masyarakat
Sebagaimana peranan iman yang jumlahnya sulit dihitung demikian juga pengaruhnya, dimana yang tidak diketahui lebih banyak. Lebih sulit lagi apabila dianalisis pengaruh iman terhadap hal-hal bersifat metafisik.
William James, seorang guru besar dalam ilmu filsafat di Harvard University berpendapat, bahwa pengaruh keimanan menumbuhkan keberanian, semangat, berpengharapan, menghilangkan perasaan takut serta keluh kesah, memberikan perbekalan hidup yang berupa cita-cita dan tujuan hidup, menimbulkan dihadapannya lapangan kebahagiaan dan alam subur ditengah-tengah gurun kehidupan.
Dr. Paul Erneet Adolf seorang guru besar pada Universitas Saint Jones dan anggota himpunan ahli bedah Amerika berpendapat bahwa ilmu kedokterran dan ilmu kepercayaaan kepada Allah SWT keduanya patut menjadi landasan untuk membangun filsafat modern.
Sebenarnya banyak sekali filosof-filosof dan cendekiawan yang mengakui adanya pengaruh positif dari iman, misalnya Max Scheler, filosof Jerman, Karl filosof Jerman, Karl ospers seorang filosof eksistensialisme, J. Kant filosof dari Rusia yang terkenal dengan teorinya kopernikan ke subyek dan filosof-filosof lain yang terkenal. Pemikiran para filosof dan cendekiawan tersebut pada umumnya tidak secara jelas diterangkan proses terjadinya pengaruh tersebut, sehingga sulit untuk diterima oleh ahli-ahli pikir lainnya.
Misalnya watak dasar manusia adalah egoisme. Watak inilah yang sering menimbulkan permusuhan, perampasan hak orang lain, penguasaan dan lain sebagainya. Namun iman yang mengandung ajaran social dan susila mampu menumbuhkan perdamaian dan kedamaian di tengah-tengah kehidupan yang saling bermusuhan.
Dalam wahyu ditetapkan, bahwa manusia itu mempunyai kecenderungan akeduniaan tanpa suatu pedoman dan batas merupakan biang pokok timbulnya kerusakan masyarakat. Namun disamping itu keimanan mampu mengendalikan dan menolak kecenderungan itu, karena iman mengandung ajaran tentang batas diperbolehkannya mencintai keduniaan, yaitu selama tidak menimbulkan kerusakan dan bahaya bagi kehidupan masyarakat.
Sejak dahulu kala sampai sekarang, khususnya dalam era globalisasi banyak sekali kegiatan-kegiatan negative yang tejadi di suatu Negara. Pemerintah dengan undang-undangnya dan hukuman terpaksa mundur dan tidak mampu menyelesaikan kebiaaan negative tersebut. Ternyat kekuatan iman yang memilki pengaruh melumpuhka kebiasaan yang tidak dapat dihadapi oleh kekuasaan dan kekuatan lahir.
Pegaruh ekuatan iman melahirkan akhlak dan moral yang luhur dalam kehidupan manusia, seperti jujur, adil dala segala situasi, diucapkan kebenaran walaupun terasa sangat berat, ditegakkan kebenaran sekalipun berakibat merugikan dirinya dan keluarganya, bersikap adil terhadap lawan sebagaimana bersikap adil di tengah-tengah kawan, masih banyak lagi norma-norma luhu yang dicetuskan oleh kekuatan iman. Oleh karena sangat patut sekali apabila dinyatakan bahawa iman dan taqwa adalah kunci pengalaman nilai-nilai luhur.
Dengan kunci iman yang menentukan damai atau perang, aman atau kacau, hidup atau mati, tentram atau gelisah, mujur atau malang, kuat atau lemah, halal atau haram, dan sebagainya. Oleh karena itu kepercayaan tentang keesaan Tuhan tidak saja merupakan akibat dai terutusnya nabi Muhammad saw, tapi juga menjadi akibat pokok dan dasar terutusnya nabi-nabi semuanya.
Perubahan jiwa seseorang aau masyarakat merupakan suatu reformasi dala pandang filsafat. Setiap pembangunan dan kebangkitan umat dalam situasi apapun harus sejalan dengan reformasi jiwa tersebut. Apabla tidak sejalan maka usaha pembangunan dan kebangkitan ummat itu hanya berupa rencana atau program semata-mata.
 Reformasi jiwa bukanlah suatu hal yang rinagn dilakukan, tetapi merupakan suatu hal yang berat dan sulit, sebab manusia merupakan makhluk yang dalam dirinya bertemu secara integral semua sifat-sifat, baik positif maupun negative yang memerlukan media yang mampu sebagai mekanisme spiritual yang menormalisir sifat-sifat yang paradok itu. Oleh karena itu wajar perubahan jiwa manusia termasuk usaha yang sangat berat, membendung aliran air yang dahsyat dan mengubah arah aliarannya, membuat terowongan tanah dibawah laut merupakan pekerjaan yang lebih ringan daripada usaha mengubah jiwa dan pandangan hidup.
Tetapi ternyata dalam pengalaman sejarah pengaruh kekuatan iman yang mampu menciptakan perubahan jiwa manusia dan menjadikan manusia dalam bentuk baru, sehingga berubah juga pandangan hidupnya didua masa, yaitu masa di dalam keadaan kafir dan masa didalam keaadaan beriman, maka jelaslah bahwa dalam masa kedua itu bukan lagi seperti dalam masa pertama, sekalipun nama dan bentuk tubuhnya berubah.
Kadang pengaruh iman terhadap seseorang terjadi secara drastic, tanpa memandang umur dan tingkat penghidupan. Sering pengaruh tersebut bertentangan dengan teori para psikolog, dimana mereka menetapka teorinya, bahwa keberhasilan pendidikan terikat oleh masa-masa tertentu. Hal ini berbeda dengan pengaruh iman, apabila iman telah tertanam dalam jiwa seseorang, maka iman tersebut mampu mengubah jiwa dan pandangan hidup. Semuanya itu tidak terbatas pada masa-masa tertentu, baik masa remaja, dan masa dewasa maupun tua.
Pengaruh iman terhadap jiwa bukan suatu hal yang diragukan sebagaimana dapat disaksikan pada fakta sejarah bangsa arab. Pengaruh iman terhadap perubahan jiwa tidak hanya terjadi pada kehidupan masyarakat dan bangsa, namun juga terjadi terhadap individu, baik pria maupun wanita, seperti terjadi pada seorang laki-laki bernama Umar bin Khattab dan seorang wanita bernama Khansa`. Ternyata pribadi keduanya sebelum dan sesudah beriman jauh berbeda. Berkat pengaruh iman keduanya menjadi hamba Allah yang penuh taqwa dalam segala situasi dan kondisi.
Semoga tulisan singkat ini bermanfaat bagi kita semua.
               
Penulis adalah dosen Filsafat Islam Fakultas Tarbiyah IAIN Malang.



Bahan Referensi

·         Al-Qur`an wa al Ilmi al Hadits, Musthofa Shodiq Al Rofi`i.
·         Ihya` al `Ulum al Din, Abu Hamid Muhammad Al Ghozali.
·         Al Munqis min al Dlolal, Abu Hamid Muhammad Al Ghozali.
·         A. Modern Philosophy of Religion, Henry Regnery.
·         Al Wujud al Haq, Dr. Hasan Al Huwaidy.
·         Percikan Filsafat, Prof. Dr. N. Drijerkara S.J.
·         Tarikh al Hukama, Al Qifti.
·         Berkenalan dengan eksistensialisme, Prof. Dr. Fuad Hasan.


Sabtu, 08 September 2012

shalat istiqarah


Dalam kehidupan ini kita sering dihadapkan pada beragam pilihan. Ada pilihan yang dengan mudah kita putuskan, namun tak jarang kita kesulitan dalam menentukan pilihan yang akan kita ambil. Jika sudah demikian, alangkah baiknya jika kita melaksanakan sholat istikharah. 
Sholat istikharah adalah sholat sunnat yang dilakukan untuk memohon pertologan Allah dalam menentukan suatu keputusan. Sholat istikharah sangat dianjurkan oleh Rasulullah Muhammad saw jika kita menghadapi dilemma dalam mengambil keputusan. Dengan sholat istikharah, diharapkan keputusan yang kita ambil mendapat ridho dari Allah SWT.
Sholat istikarah dapat dilakukan setiap saat, tanpa ada batasan waktu. Sholat istikharah dikejakan sebanyak 2 rakaat, dengan cara seperti kita melakukan sholat-sholat yang lain. Namun pada sholat istikharah, setelah membaca surat Al Fatihah pada rakaat pertama dianjurkan untuk membaca surat Al kaafiruun. Sedang pada rakaat kedua sholat istikharah, setelah membaca Al Fatihah dianjurkan untuk membaca surat Al Ikhlas.
Setelah selesai melakukan sholat istikharah, dilanjutkan dengan membaca sholawat kepada Rasulullah Muhammad saw. Setelah itu, berdoa dengan doa berikut ini:
اللَّهُمَّ إِنيِّ أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ اْلعَظِيْمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ, وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ, وَأَنْتَ عَلاَّمُ اْلغُيُوْبِ. اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ -وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ- خَيْرٌ لِي فيِ دِيْنيِ وَمَعَاشيِ وَعَاقِبَةِ أَمْرِي، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ فَاقْدُرْهُ ليِ وَيَسِّرْهُ ليِ، ثُمَّ بَارِكْ ليِ فِيْهِ. وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ شَرٌّ ليِ فيِ دِيْنيِ وَمَعَاشيِ وَعَاقِبَةِ أَمْرِي، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنيِّ وَاصْرِفْنيِ عَنْهُ، وَاقْدُرْ لِيَ اْلخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنيِ بِهِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepa-da-Mu dengan ilmu pengetahuan-Mu dan aku mohon kekuasaan-Mu (untuk mengatasi persoalanku) dengan kemahakuasaan-Mu. Aku mohon kepada-Mu sesuatu dari anugerah-Mu Yang Maha-agung, sesungguhnya Engkau Mahakuasa sedang aku tidak kua-sa. Engkau mengetahui sedang aku tidak mengetahui dan Eng-kau adalah Maha Mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini (di sini, orang yang mem-punyai hajat hendaknya menyebutkan persoalannya) adalah baik untuk agamaku, kehidupanku, dan akibatnya terhadap diriku, di dunia atau akhirat, maka taqdirkanlah untukku, mudahkan jalannya, kemudian berilah berkah. Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini berbahaya bagiku dalam agama, kehidupanku dan akibatnya terhadap diriku, maka jauhkanlah persoalan tersebut dariku dan jauhkanlah aku darinya, taqdirkan kebaikan untukku di mana pun ia berada, kemudian berilah kerelaan-Mu kepadaku” (HR. al-Bukhari)
Sholat istikharah dapat dilakukan berulang-ulang, hingga hati kita merasa mantap untuk mengambil keputusan. Selain itu, jika tidak sempat melakukan sholat istikharah, beberapa ulama berpendapat hanya membaca doa sholat istikharah juga diperbolehkan, sebab sholat istikharah pada dasarnya adalah doa kepada Allah untuk meminta petunjuk.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melaksanakan sholat istikharah:
Biasakanlah untuk melakukan shalat Istikharah dalam setiap perkara apa saja sekali pun sepele.
Yakinlah bahwa Allah subhanahu wata’ala akan menganugerahkan petunjuk untuk hal yang lebih baik, himpun segenap hati saat berdo’a, renungi dan pahamilah makna-maknanya yang agung.
Tidak sah melakukan shalat Istikharah setelah shalat fardhu tetapi harus berupa (shalat sunnah) dua raka’at yang khusus untuk shalat Istikharah.
Jika hendak melakukan shalat Istikharah setelah shalat sunnah Rawatib, shalat Dhuha atau shalat-shalat sunnah lainnya, maka hal itu boleh dengan syarat berniat sholat Istikharah sebelum memulai shalat . Sedangkan bila telah melakukan Takbiratul Ihram untuk shalat istikharah, padahal belum meniatkan shalat Istikharah, maka tidak sah.
Jika ingin melakukan shalat Istikharah di waktu-waktu yang terlarang, maka bersabarlah hingga masuk waktu shalat.
Jika ada yang menghalangi untuk shalat -seperti sedang haidh bagi wanita-, maka tunggulah hingga halangan itu hilang. Jika urusan yang ingin di Istikharah-kan itu dikhawatirkan terlewati, maka beristikharahlah dengan cara berdo’a, bukan dengan melakukan shalat.
Bila tidak hafal do’a Istikharah, maka bacalah di kertas atau kitab tetapi sebaiknya dihafal.
Do’a shalat Istikharah boleh diucapkan sebelum salam dari shalat -yakni setelah tasyahhud- sebagaimana halnya boleh setelah salam.
Bila telah melakukan shalat Istikharah, maka lakukanlah apa yang diinginkan itu dan jangan menunggu mendapatkan mimpi mengenai hal itu.
Bila masih belum tampak mana yang lebih baik, maka ulangi lagi shalat Istikharah.
Jangan tambahkan apa pun pada do’a ini dan jangan pula dikurangi. Berhentilah sebatas dalil yang ada.
Jangan jadikan hawa nafsu menguasai dalam menentukan pilihan, sebab bisa jadi yang lebih baik bertentangan dengan hawa nafsu itu.
Jangan lupa untuk meminta pendapat orang-orang yang bijak dan shalih. Gabungkan antara shalat Istikharah dan meminta pendapat.



salam 

bos son

Rabu, 23 Mei 2012

rumus cepat matematika Segitga Phythagoras

Rumus Cepat Pythagoras

Judul Asli: “Segitiga Pythagoras Makin Menakjubkan: Genap”
Beberapa hari lalu saya nonton tayangan “Flash of Genius”. Kisah nyata yang inspiratif.
Seorang profesor menyatakan bahwa Dr Kearns tidak menemukan hal baru apa pun. Karena resistor telah lama ditemukan sebelum Kearns. Capacitor, transistor, dan komponen lainnya telah lama ditemukan sebelum masa Kearns. Yang dilakukan Kearns hanyalah merangkainya dengan pola yang baru. Itu saja.
Perdebatan berlanjut… dan Kearns akhirnya menang. Penemuan terhebat, penemuan jenius dari Dr Kearns adalah penemuan pola baru dalam merangkai komponen yang ada tersebut.
Kearns memenangkan 10 juta dolar dan bertambah lagi sampai hampir 30 juta dolar.
Menemukan pola, mengenali pola, menciptakan pola adalah penemuan yang sangat penting.
Paman APIQ berulang-ulang menekankan cara paling mudah menjadi kreatif adalah dengan mengenali pola.
Beberapa waktu lalu, Paman APIQ telah berbagi pengenalan pola segitiga Pythagoras ganjil. Kali ini Paman APIQ mengajak kita berpetualang mengenali pola segitiga Pythagoras genap.
Tentu kita masih ingat, dalam segitiga siku-siku berlaku teorema Pythagoras:
a^2 + b^2 = c^2
a = 4, b = 3, c = … = 5
a = 6, b = 8, c = … = 10
a = 8, b = 15, c =… = 17
Dapatkan Anda menemukan polanya?
Pola a mungkin tampak dengan jelas.
Bagaimana menemukan pola hubungan b dan c?
Mari kita coba lagi…
a = 10, b = 24, c = …. = 26
a = 12, b = 35, c = …. = 37
a = 14, b = 48, c = ….
a = 16, b = 63, c = ….
Selamat berpetualang dengan pola-pola…
Bagaimana menurut Anda?

Selasa, 08 Mei 2012

Dasar2 Aspek JUJUR dalam Berkehidupan

Ada beberapa aspek JUJUR dalam Islam:

Pertama, Jujur dalam kehidupan sehari-hari; merupakan anjuran dari Allah dan Rasulnya. Banyak ayat Al Qur'an menerangkan kedudukan orang-orang jujur antara lain: QS. Ali Imran (3): 15-17, An Nisa' (4): 69, Al Maidah (5): 119. Begitu juga secara gamblang Rasulullah menyatakan dengan sabdanya: "Wajib atas kalian untuk jujur, sebab jujur itu akan membawa kebaikan, dan kebaikan akan menunjukkan jalan ke sorga, begitu pula seseorang senantiasa jujur dan memperhatikan kejujuran, sehingga akan termaktub di sisi Allah atas kejujurannya. Sebaliknya, janganlah berdusta, sebab dusta akan mengarah pada kejahatan, dan kejahatan akan membewa ke neraka, seseorang yang senantiasa berdusta, dan memperhatikan kedustaannya, sehingga tercatat di sisi Allah sebagai pendusta" (HR. Bukhari-Muslim dari Ibnu Mas'ud)

Kedua, kejujuran dan kebohongan dalam kehidupan politik; ada hadits yang menyatakan dengan tegas bahwa Rasulullah bersabda: "Ada tiga kriteria manusia yang tidak dilihat dan disucikan Allah swt. di hari akherat bahkan bagi mereka adzab yang pedih adalah: Orang sudah tua yang berzina, Pemimpin yang berdusta, dan Orang sombong.

Adapun kebohongan yang diperbolehkan dalam kaitan untuk kegiatan berpolitik, yaitu apabila kebohongan itu bisa meredam keributan sosial agar tidak terjadi perpecahan. Dalam hal ini Rasulullah saw. memberi keringanan seperti dalam hadis dari Ummi Kaltsoum: "Saya tidak mendengar Rasulullah saw. memberi keringanan pada suatu kebohongan kecuali tiga masalah: Seseorang yang membicarakan masalah dengan maksud mengadakan perbaikan (Islah); seseorang membicarakan masalah pada saat konflik perang (agar selamat), dan seseorang yang merayu istrinya begitu juga istri merayu suami.(HR. Muslim) Ada juga hadits yang menyatakan, Rasulullah bersabda: "Bukanlah pendusta orang yang ingin melerai konflik sesama, hingga orang tersebut berkata: semoga baik dan menjadi baik" (HR. Mutafaq Alaih)

Begitulah batas kejujuran dan kebohongan secara dasar yang berkaitan dengan keseharian dan politik. Dan sudah jelas bahwa tujuan dari keduanya adalah untuk sebuah kedamaian.

Namun dalam kaitan politik kontemporer yang lebih pelik lagi dan kompleks, Anda sendiri bisa memilah-milah bagaimana kehidupan politik para penguasa sekarang sangat tidak memperhatikan nilai kejujuran. Namun kita menyadari bahwa sistem negara Islam sendiri juga masih dalam perselisihan hingga sebaiknya yang perlu kita lihat adalah person atau oknum dalam memimpin kepemerintahan tersebut. Selanjutnya kita berdoa agar sistem yang memberi peluang terhadap kebohongan bisa diminimalisir. Dan itu berangkat dari sistem kepribadian kita.

Jumat, 27 April 2012

hakikat islam

HAKEKAT ISLAM (HAKIKAT ISLAM)
Makna Islam, Bahasa dan Istilah
Al Islam (لإسلم) yang memiliki akar kata dari سلم)) dalam bahasa Arab setidaknya mengandung tiga makna seperti di bawah ini:
الخلو ص والتعرى من لآ فا ت الظا هرة أوالبا طنة
Bebas dan bersih dari penyakit lahir dan bathin
الصلح والأما ن
Damai dan tentram
الطاعة ولإ ذعان
Taat dan patuh[1]


[1] Ruuh ad-Dien al-Islamy, Afif Abdul Fattah Thabbarah, hal. 13
Dalam Al-Quran kalimat al-Islam paling tidak menggambarkan 4 pemahaman yang dapat dipetik:
  1. Islam kontradiktif sebuah kesyirikan. Alloh swt berfirman :
Katakanlah: "Sesungguhnya Aku diperintah supaya Aku menjadi orang yang pertama kali menyerah diri (kepada Alloh), dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang musyrik." (Qs. Al-An’am:14)
  1. Islam kontradiktif sebuah kekufuran. Alloh swt berfirman:
Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam? (Qs. Al-Imran:80)
  1. Islam bermakna ikhlas kepada Alloh swt . Alloh swt berfirman :
Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Alloh (Qs. An-Nisaa’:125)
  1. Islam bermakna al-Khudu’(ketundukan) dan al-Inqiyadh (kepatuhan). Alloh swt berfirman :
Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya(Qs. azZumar : 54[1])
Jika dlihat dari asal maknanya, baik menurut bahasa maupun menurut apa yang dipahami di dalam Al-Quran, maka Islam –sebagaimana yang dinayatkan oleh Dr. Shalah ash-Shawy- adalah :
مطلق الإستسلم الله k  والإنقياد لما أنزله على رسله من الهدى
Menyerahkan diri secara mutlak kepada Alloh k serta tunduk dan patuh dengan hidayat yang diturunkan kepada para Rasul-Nya[2]
Makna Islam tersebut berarti mengandung 2 asas utama, yaitu:
1.    Penyerahan diri secara mutlak kepada Alloh swt serta
2.    Tunduk dan patuh kepada syariat yang dibawa oleh para rasul-Nya.
Muhammad bin Abdul Wahhab menambahkan asas makna Islam ini menjadi tiga yang diistilahkannya dengan tauhid, taat, dan bara’ah dari syirik. Dia berkata

الإسلام هوالإستسلام الله باالتّوحيد والإنقيادله بالطاعةوالبراءة منالشرك

Islam adalah berserah diri kepada Alloh dengan tauhid, tunduk, dan patuh kepada-Nya dengan keta’atan serta membebaskan diri (bara’ah) dari syirik[3]
Asas ketiga yang menjadi tambahan dari dua asas sebelumnya ialah:
3.    Membebaskan diri dari berbagai bentuk kesyirikan (al-Bara’ah miin asy-Syrik)
Dari uraian makna-makna ini dapat kita simpulkan bahwa Islam adalah suatu ajaran yang mengajarkan sikap pasrah kepada Alloh swt (Tuhan semesta alam). Program pokok Islam ini adalah membebaskan manusia dari belenggu faham Tuhan banyak dengan mencanangkan dasar kepercayaan dan ketundukkan  yang diungkapkan dalam kalimat al-Nafy wa’i Itsbat (negasi-konfirmasi) yaitu kalimat "tidak ada Tuhan selain Alloh”. Kalimat itu dimulai dengan proses pembebasan dari belenggu kepercayaan dan ketundukkan kepada hal-hal yang palsu dan diakhiri dengan peneguhan bahwa manusia harus mempunyai kepercayaan dan ketundukkan pada sesuatu yang benar. Pelaksanaan program ini bagi suatu masyarakat manusia yang telah memiliki kepercayaan pada Tuhan secara tercampur, proses pembebasannya harus dilakukan dengan pemurnian kepercayaan dan ketundukkan kepada Alloh swt . caranya, pertama dengan melepaskan diri dari kepercayaan dan ketundukkan yang palsu dan kedua dengan pemusatan pada kepercayaan dan ketundukkan yang benar.
Pemusatan pada kepercayaan dan ketundukkan yang benar berarti menjadikan Alloh sebagai satu-satunya arah dan tujuan hidup yang didapat melalui hidup sesuai dengan syariat Alloh yang diajarkan oleh para utusan-Nya setulus hati nurani. Ketulusan itu dibuktikan melalui tiga hal :
1.    Meyakini secara kokoh bahwa Alloh swt Maha Esa pada dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, nama-nama-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya serta tidak ada sekutu bagi-Nya.
2.    Mempersembahkan pengabdian / peribadatan kepada Alloh Maha Esa Yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan
3.    Berhukum kepada syariat-Nya semata dan bukan kepada undang-undang atau hukum-hukum lainnya[4]

Islam adalah Hukum Alam dan Thabi’at setiap Mahluk
Alloh swt berfirman :
Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Alloh, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan Hanya kepada Allohlah mereka dikembalikan. (Qs. Al-Imran:83)
Segala apa yang dilangit adalah para malaikat dan segala apa yang dibumi adalah setiap mahluk yang ada di dalamnya Ulama tafsir mengatakan :
Sesungguhnya segala sesuatu yang ada dilangit dan di bumi, sampai-sampai hewan dan benda padat dalam keadaan berserah diri (Islam) kepada Alloh swt serta sampai-sampai orang kafir pun berserah diri (Islam) kepada Alloh dengan terpaksa sekalipun hati dan lisannya kufur[5]
Muhammad Mahmud Hijazi dalam menafsirkan ayat ini berkata,
Hanya kepada Alloh swt segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi ber-Islam, tunduk dan patuh pada aturan-Nya dalam pembentukan dan kejadian. Dialah Dzat yang mengatur mereka sedangkan mereka tunduk/patuh kepada-Nya[6]
Makna ke-Islaman ini –menurut ‘Afif Abdul Fattah Thabbarah –adalah dikarenakan mereka tunduk dan patuh kepada Alloh swt dalam hukum penciptaan mereka, senang atau tidak senang  hukum-hukum alam tetap berlaku bagi mereka[7]
Islam –yang sebenarnya direalisasikan dalam penegakkan manhaj Alloh di muka bumi, mengikutinya dan murni karenanya –adalah undang-undang eksistensi dan agama segala sesuatu yang hidup dalam eksistensi tersebut. Ke-Islaman mekanik adalah ke-Islaman tunduk/patuh pada perintah, mengikuti management dan menaati undang-undang Tuhan terhadap alam[8]

Islam adalah Fithrah Seluruh Manusia
Alloh swt berfirman :
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Alloh; (tetaplah atas) fitrah Alloh yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Alloh. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (Qs. Ar-Rum;30)
Ibnu Zaid berkata: (Fitrah Alloh yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu) adalah Islam di mana sejak Alloh menciptakan mereka dari Adam, mereka mengakuinya. Sedangkan Mujahid berkata: (fitrah Alloh) adalah dien Islam[9]
Dr. Muhammad Sulaiman Abdullah al-Asyqar dalam tafsirnya mengatakan Alloh telah memfitrahkan mereka dalam Islam[10]
Ibnu Katsir  ketika menjelaskan ayat inipun berkata:
Sesungguhnya Alloh swt telah memfitrahkan mahluk-Nya di atas Islam. Kemudian, pada sebagian mereka muncul berbagai agama yang rusak seperti Yahudi, Nashrani dan Majusi... Agama dan fitrah adalah Islam[11]
Para ulama menyebutkan bahwa Ikrimah, Mujahid, al-Hasan, Ibrahim, adh-Dhahhak dan Qatadah berkata:
Firman Alloh swt : fitrah Alloh yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu adalah Dien Alloh, Islam[12])
Para ulama telah sepakat bahwa yang dimaksud fitrah dalam ayat ini adalah Islam[13]
Rasulullah saw bersabda :

كل مولوديولدعلىالفطرة فأبواه يهودانه أوينصرانه أويمجسانه كمثل البهيمة تنتج البهيمة هل ترى فيهاجدعاء

Setiap anak Adam dilahirkan berada di atas fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan di Yahudi, Nashrani dan Majusi seperti perumpamaan binatang ternak bertanduk yang melahirkan binatang ternak bertanduk, apakah engkau melihatnya ia melahirkan yang tidak bertanduk. Kemudian Abu Hurairah periwayat hadits ini berkata : bacalah oleh kalian jika mau (Qs. Ar-Ruum:30[14])
Di dalam riwayat lain disebutkan :
مامن مولوديولدإلاّوهوعلي الملّة

Tidak ada satu anakpun yang dilahirkan kecuali dia berada diatas Millah ini.

Hal tersebut tidak berarti bahwa ketika seseorang lahir dari perut ibunya, langsung mengetahui dan menghendaki agama ini. Akan tetapi, fitrahnya itu mengharuskan dan menuntut untuk berdien Islam dan mencintai-Nya. Jiwa fitrah mengharuskan pengikraran pada Maha Pencipta, mencintai-Nya dan mengikhlaskan pengabdian hanya kepada-Nya. Berbagai konsekuensi dan tuntutan fitrah akan tercapai sedikit demi sedkit sesuai kesempurnaan dan kesiapan fitrah serta bebasnya dari dari berbagai penghalang. Karena, seandainya dia tetap bersih dan tidak ada penghalang-penghalang, niscaya dia tidak akan berpaling dari Islam kepada agama yang lainnya[15]
Maka, setiap anak yang dilahirkan pada awal penciptaanya berada di atas fitrah yaitu jiwa yang bersih dan tabi’at yang siap menerima agama (Islam). Seandainya dia dibiarkan di atas fitrahnya itu, niscaya dia akan terus konsekuen terhadap hal tersebut. Karena, kebaikan agama (Islam) ini telah tertanam di dalam rasio. Berpalingnya orang dari fitrah tersebut disebabkan bencana-bencana yang muncul dan taklid. Jika, dia selamat dari bencana-bencana tersebut niscaya dia tidak akan meyakini agama yang lain[16]

Islam adalah Agama yang Dianut dan Dibawa oleh Seluruh Utusan (Rasul) Alloh
Islam adalah agama seluruh Nabi dan Rasul. Penamaan agama para rasul dengan Islam telah diberikan langsung oleh Alloh swt . Alloh swt berfirman :
Sesungguhnya (agama Tauhid) Ini adalah agama kamu semua; agama yang satu[971] dan Aku adalah Tuhanmu, Maka sembahlah Aku.
Ibnu Abbas, Mujahid, Sa’ied bin Jubair, Qatadah dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata (Sesungguhnya ummat kalian adalah ummat yang satu) agama kalian adalah agama yang satu[17]
Sayyid Quthb berkata : Sesungguhnya agama Alloh adalah satu. Dibawa oleh seluruh rasul dan saling diperjanjikan oleh mereka[18]
Syeikh Shafwat asy-Syawadify berkata : seluruh Nabi dan Rasul dari Adam dan Nuh hingga Muhammad n -untuknya dan untuk mereka seluruhnya shalawat serta salam –adalah orang-orang muslim, mukmin dan muwahhid. Tidak ada di antara para Nabi yang didapati menjadi Nabi Yahudi, Nabi Nashrani dan nabi-nabi lainnya selain Islam[19]
Nabi Nuh as berkata :
Dan aku diperintahkan untuk menjadi orang-orang yang muslim. (Qs. Yusuf : 72)
Alloh swt menceritakan seorang Nabi-nya yaitu Ibrahim as dengan frman-Nya :
Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam". (Qs. Al-Baqarah : 131)

Musa berkata kepada kaumnya :
Berkata Musa: "Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Alloh, Maka bertawakkAlloh kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri." (qs. Yunus : 84)

Al-Quran menceritakan tentang Isa as :
Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Alloh?" para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: "Kamilah penolong-penolong (agama) Alloh, kami beriman kepada Alloh; dan saksikanlah bahwa Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri. (Qs. Al-Imran : 52)
Dengan demikian kita dapat memahami bahwa alam ini tidak berjalan tanpa aturan dan tidak berputar secara serampangan. Melainkan semuanya mengikuti takdir Alloh swt dan perputarannya sesuai dengan hukum Alloh. Inilah yang disebut dalam Al-Quran sebagai sunatullah[20]. Itulah makna ke-Islaman alam kepada Rabbul’alamin sebagai penciptanya.
Tanggung jawab manusia dalam kehidupan di bumi adalah menjalankan fungsi kekhilafahan, membangun, mendayagunakan dan menjaga seluruh mahluk. Hal tersebut dilakukan dengan beriman, tunduk, patuh dengan Rabbul’alamin –dimana mereka sendiri adalah bagian alam yang diciptakan-Nya- melalui hidup sesuai dengan syariat yang diamanahkan dan dicontohkan oleh para rasul-Nya. Dengan ke-Islaman seperti itu alam dan seluruh manusia akan mendapatkan jaminan keberhasilan, kemenangan, kemakmuran, keadilan dan kebahagiaan. Karena kehidupan mereka (alam dengan manusia) tertata melalui undang-undang yang sama dari Alloh swt melalui hidup yang sesuai dengan sunnatullah dan syari’atullah[21]
Demikianlah gambaran lengkap yang mendalam tentang Islam dan ke-Islaman, gambaran alamiah yang menyentuh rasa dan menggetarkan jiwa. Satu gambaran Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana yang mengembalikan segala sesuatu dan mahluk hidup kepada satu undang-undang dan satu syariat serta satu tempat kembali. Islam dan ke-Islaman yang menjadi tabiat alamiah seluruh mahluk, yang menjadi fitrah jati diri manusia serta yang menjadi agama dan sikap para nabi dan rasul. Memasuki Islam dan bersikap Islam berarti menyatukan diri dengan gerak atur alam semesta yang tunduk pada undang-undang Tuhan yang sama, meleburkan diri dengan fitrah dan jati diri kemanusiaan kita yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa serta menyambungkan diri pada rantai seluruh utusan Tuhan yang diutus dengan saling melengkapi. Maka
لاحوف عليهم ولاهم يحزنون لايضل ولايشقي
Tidak ada rasa takut dan tidak bersedih, tidak sesat dan tidak celaka pasti akan dicapai oleh manusia dan alam semesta. Adakah satu agama yang menamakan dan dinamakan Islam saat ini selain risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw ? jika tidak ada mengapa kita harus menolaknya, acuh tak acuh dan bahkan memeranginya? Jika, itu kita lakukan berarti kita memorak porandakan susunan dan aturan alam semesta, menghancur luluhkan jati diri fitrah kemanusiaan kita dan memutus mata rantai kebenaran ajaran Tuhan yang dibawa oleh para nabi dan rasul Alloh swt


[1] Ibid, hal. 14
[2] Tahkiim asy-Syari’at wa Da’aawi al-‘Ilmaaniyah, Dr. Shalah ash-Shawi, Daar ath-Thayyibah Riyaadh, cet. I tahun 1412, hal. 23
[3] Al-Ushul ats-Tsalatsah, Muhammad bin Abdul Wahhab, hal. 46
[4] Ru’yah Islamiyah fii Ahwaal al-‘Aalam al-Mu’aashir, Muhammad Quthb, hal. 123
[5] Zubdat at-Tafsiir min Fath al-Qadiir, Dr. Muhammad Sulaiman Abdullah al-Asyqar, Muassasah Risalah. Cet. VI, tahun 1419, hal. 76
[6]At-Tafsir al-Wadhiih, I/66
[7] Ruuh ad-Dien al-Islaamy, hal. 14
[8] Fii Dzilaal al-Qur’an, Sayyid Quthb, 3/423
[9] Syifa al-‘Aliil, Ibnul Qayyim, hal. 305
[10] Zubdat at-Tafsiir Min Fath al-Qadiir, hal. 534
[11] Tafsiir Al-Qur’an al-Adziim, 3/423
[12] Syifaa al-Aliil, hal. 302
[13] Tajriid at-Tahmiid, Ibnu Abdil Barr, hal. 297
[14] HR. Muslim, No. 2658
[15] Syifaa al-Aliil, hal. 318
[16] Tafsiir al-Baghaway, 6/270
[17] Tafsiir al-Qur’an al-Adzim, Ibnu Katsir, 3/194
[18] Fii Dzilaal al-Qur’an, 3/421
[19] Al-Islaam Diin al-Haq wa Maa Siwaahu Baathil, at-Tauhid, edisi No. 1 tahun 28. Hal. 6
[20] As-Sunnah sebagai Sumber Iptek dan Peradaban, Dr. Yusuf Qardhawy, hal. 249
[21] Baca: Krisis Pemikiran Islam, Dr. Abdul Hamid Abu Sulayman, hal. 165

untuk mengatasi kesulitan belajar matematika

Utk mengatasi sulitnya belajar matematika, KETEKUNAN & KEMAUAN utk belajar adalah Kata Kuncinya.  Lalu kerjasama antara guru & siswa tentu saja mutlak dibutuhkan utk mengerti soal2 yg rumit dlm matematika.
Agar belajar Matematika itu menjadi hal yg gampang, berikut beberapa Tips yg bisa Anda terapkan seperti dikutip dari anekanews.com :
1. Banyak berlatih dengan menggunakan soal yang berlainan secara rutin. Sehingga akan menimbulkan pemahaman pada sebuah materi pelajaran.
2. Bertanya kepada guru atau teman lain apabila belum memahami sebuah materi.
3. Membuat tulisan pada kertas tentang materi matematika dan menempelkennya di tempat yang mudah terlihat. Dengan demikian, kita akan hafal sebuah materi seperti rumus tanpa perlu menghafalkannya.
4. Belajar bersama. Dengan demikian, kita bisa berdiskusi dengan pihak lain serta menghilangkan kejenuhan belajar.
Bagaimana cara belajar matematika yang benar?”
“Belajar matematika adalah belajar hidup. Matematika adalah jalan hidup.”
Trachtenberg mempertaruhkan jiwanya menentang Hitler. Trachtenberg, setelah menyelami prinsip-prinsip matematika, menyimpulkan bahwa prinsip kehidupan adalah keharmonisan. Peperangan yang terus berkobar, menyulut kebencian tidak sesuai dengan prinsip-prinsip matematika. Matematika adalah keindahan.
Atas penentangannya ini, Hitler menghadiahi Trachtenberg hukuman penjara. Bagi Trachtenberg, perjara bukan apa-apa. Di dalam penjara, dia justru memiliki kesempatan memikirkan matematika tanpa banyak gangguan. Karena sulit mendapatkan alat tulis-menulis, Trachtenberg mengembangkan pendekatan matematika yang berbasis mental-imajinasi.
Seribu tahun sebelum itu, AlKhawaritzmi mengembangkan disiplin matematika baru: aljabar. AlKharitzmi beruntung hidup dalam lingkungan agama Islam yang kuat. Ajaran Islam, secara inheren, menuntut keterampilan matematika tingkat tinggi. Misalnya, Islam menetapkan aturan pembagian waris yang detil. Pembagian waris sistem Islam melibatkan banyak variabel matematis. Variabel-variabel yang beragam ini menantang penganut Islam – termasuk AlKhawaritzmi – untuk mencari pemecahan yang elegan.
Pemecahan terhadap sistem persamaan yang melibatkan banyak variabel ini membawa ke arah disiplin baru matematika: aljabar. AlKhawaritzmi menulis buku khusus tentang aljabar yang sangat fenomenal. Buku yang berjudul Aljabar ini menjadi panutan bagi matematikawan seluruh dunia. Sehingga nama AlKhawaritzmi menjadi dikenal sebagai Aljabar AlKhawaritzmi (Algebra Algorithm).
Sistem kalender Islam yang berbasis pada komariah (bulan, lunar) memberikan tantangan tersendiri. Penetapan awal bulan menjadi krusial di dalam Islam. Berbeda dengan kalender syamsiah (matahari, solar). Dalam kalender syamsiah, kita tidak begitu sensitif apa berbedaan tanggal 1 Juni dengan 2 Juni. Tetapi pada sistem komariah, perbedaan 1 Ramadhan denga 2 Ramadhan berdampak besar.
Itulah sebabnya, astronomi Islam dapat maju lebih awal. Astronomi memicu lebih berkembangnya teori trigonometri. Aturan sinus, cosinus, dan kawan-kawan berkembang pesat di tangan para astronom Islam waktu itu.
Ajaran agama Islam adalah jalan hidup. Untuk bisa melaksanakan ajaran Islam diperlukan matematika. Matematika menjadi jalan hidup.
Sehebat itukah peran matematika?
Haruskah kita mengambil matematika sebagai jalan hidup?
Tidak selalu! Tidak semua orang perlu mengambil matematika sebagai jalan hidup. Tidak harus semua orang meniru AlKhawaritzmi dan Trachtenberg.
Beberapa orang belajar matematika hanya untuk kesenangan. Beberapa orang yang lain belajar karena kewajiban. Ada pula yang belajar matematika agar naik jabatan. Ada juga agar lulus UN, SPMB, UMPTN. Ada juga untuk menjadi juara.
Masing-masing tujuan, berimplikasi kepada cara belajar matematika yang berbeda. Misalnya bila Anda belajar matematika untuk kepentingan lulus UN, SPMB, UMPTN 2008 akan berbeda dengan belajar untuk memenangkan olimpiade matematika.
Matematika UN, SPMB, UMPTN 2008 hanya menerapkan soal pilihan ganda. Implikasinya Anda hanya dinilai dari jawaban akhir Anda. Proses Anda menemukan jawaban itu tidak penting. Jadi Anda harus memilih siasat yang cepat dan tepat.
Gunakan berbagai macam rumus cepat dalam matematika. Rumus cepat ampuh Anda gunakan untuk UN, SPMB, UMPTN. Tetapi rumus cepat matematika tidak akan berguna untuk olimpiade atau kuliah kalkulus kelak di perguruan tinggi. Anda harus sadar itu.
Contoh rumus cepat matematika yang sering (hampir selalu) berguna ketika UN, SPMB, UMPTN adalah rumus tentang deret aritmetika.
Contoh soal:
Jumlah n suku pertama dari suatu deret adalah Sn = 3n^2 + n. Maka suku ke-11 dari deret tersebut adalah…
Tentu ada banyak cara untuk menyelesaikan soal ini.
Cara pertama, tentukan dulu rumus Un kemudian hitung U11. Cara ini cukup panjang. Tetapi bagus Anda coba untuk meningkatkan keterampilan dan pemahaman konsep deret. Rumus Un dapat kita peroleh dari selisih Sn – S(n-1) .
Cara kedua, sedikit lebih cerdik dari cara pertama. Kita tidak perlu menentukan rumus Un. Karena kita memang tidak ditanya rumus tersebut. Kita langsung menghitung U11 dengan cara menghitung selisih
S11 – S10 = U11
[3(11^2) + 11] – [3(10^2) + 10]
= 3.121 – 3.100 + 11 – 10
= 3.21 + 1
= 64
Cara ketiga, adalah rumus matematika paling cepat dari kedua rumus di atas. Tetapi sebelum menerapkan cara ketiga, kita harus memahami konsepnya terlebih dahulu dengan baik.
Are you ready?
Bentuk baku dari n suku pertama deret aritmetika adalah
Sn = (b/2)n^2 + k.n
Un = b(n-1) + a
a = S1 = U1
Anda harus pahami konsep di atas dengan baik. Cobalah untuk beberapa soal yang berbeda-beda. Tanpa pemahaman konsep yang baik, rumus cepat ini akan berubah menjadi rumus berat.
Dengan hanya melihat soal (tanpa menghitung di kertas) bahwa
Sn = 3n^2 + n
Kita peroleh
b = 6 (dari 3 x 2)
a = 4 (dari S1 = 3 + 1)
U11 = 6.10 + 4 = 64 (Selesai)
Semua perhitungan di atas dapat kita lakukan tanpa menggunakan alat tulis. Semua kita lakukan hanya dalam imajinasi kita. Ulangi beberapa kali. Anda pasti akan menguasainya dengan baik.
Trik untuk menguasai rumus cepat matematika adalah kuasai pula rumus standarnya – rumus biasanya. Dengan menguasai dua cara ini Anda akan semakin terampil menggunakan rumus cepat matematika.
Bagaimana pendapat Anda?
Salam hangat….Selamat berjuang Kawan!